Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Menunggu: Seni yang Terlupakan

Apakah sebuah pekerjaan yang tidak pernah disadari manusia, tapi dia nyata hadir setiap saat yang senantiasa ingin dihindari namun tak pelak tak terhindarkan? Pekerjaan itu adalah menunggu.

Banyak yang mengatakan menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan sedunia akhirat. Padahal menunggu rupanya tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan menunggu adalah pekerjaan yang paling sering dilakukan manusia. Boleh percaya atau tidak!

Pernahkah kita tidak pernah menunggu dalam satu hari saja? Menunggu barang sedetik pun ya namanya tetap saja menunggu. Nah, dari sebuah aktivitas menunggu ternyata saya mendapati makna filosofis di belakangnya.

Menunggu itu ternyata sengaja dicipatkan Yang Mahakuasa untuk menunjukkan kalau kehidupan itu adalah proses. Kehidupan tidak bisa ditempuh dengan cara instan. Apa proses yang harus dilalui? Ya itu tadi, menunggu. Ibarat kata, saya dari rumah mau berangkat ke Bandung. Dari rumah saya ke pinggir jalan untuk menunggu angkot ke terminal Bekasi. Di pinggir jalan, kita menunggu beberapa saat sampai ada angkot yang lewat. Sampai di terminal, kita naik bus jurusan Leuwipanjang. Ternyata Primajasa AC-nya belum penuh, terpaksa saya menunggu sampai semua penumpang naik. Setelah itu ke Bandung pun, kita harus sabar menunggu bus melewati tol Cikampek, Purwakarta, sampai keluar tol Padaleunyi (syukur-syukur lewat Cipularang). Sampai di terminal Leuwipanjang, untuk mau ke Dago atau Jatinangor sekalian, saya harus naik bus lagi. Dari sini siklusnya berputar lagi dan tetap harus ada proses menunggu di dalamnya. Wuiiiihhhhhhhhh!!!!!

Kebayang kan betapa bosannya cerita di atas? Makanya tidak pernah ada yang suka menunggu. Padahal ada makna filosofis lagi di balik pekerjaan menunggu. Percaya atau tidak, orang menunggu karena dia punya harapan. Artinya betapapun bagaimana, harapan akan selalu ada. Orang sabar disayang Tuhan, itu benar. Kalau kita sabar menunggu pasti ada buah yang selalu bisa dipetik. Saya sabar menunggu sampai bisnya penuh sekira 30 menitan, toh pada akhirnya busnya berangkat juga. Waktu adalah sebuah keniscayaan, karena pada akhirnya dia pasti akan beranjak. Apabila, hasilnya tidak sebanding seperti saya pernah menunggu interview kerja sampai 4 jam lamanya dan tidak berbuah positif, itu ambil enaknya aja (meminjam slogan iklan)… Hehehehe…

Untuk menutup renungan asal-asalan ini, marilah kita simak lirik lagu ‘Menunggumu’ yang diciptakan Peter Pan untuk dinyanyikan bersama Chrisye, yang sempat ‘mengganggu’ pendengaran saya baru-baru ini:
” Bila rindu ini / masih milikmu / Kuhadirkan sebuah / tanya untukmu / Harus berapa lama / aku menunggumu / Aku menunggumu “

Filed under: Uncategorized

Pangkalnya adalah SMS

Inilah keajaiban teknologi yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi. Data digital yang dikirimkan melalui jaringan seluler diubah menjadi huruf demi kata demi kalimat demi bahasa yang mengandung makna. Selama bahasa yang digunakan dapat dipahami, SMS adalah piranti komunikasi mutakhir yang bisa diandalkan.

Tidak sedikit pengguna ponsel yang menggunakan sebagian banyak pulsanya hanya untuk ber-SMS bukan untuk bertelepon. Saya pun demikian. Sekonyong-konyong, SMS ini sudah menjadi ujung tombak untuk mengetahui berita dari teman dan handai taulan dalam waktu sangat instan. Kebolehannya ini membuat saya, dan mungkin banyak orang, menumpukan harapan pada layanan pesan singkat ini.

Tapi… Beberapa hari ini mungkin baru saya sadari. Di tengah kesibukan bekerja, SMS bisa menjadi eskapisme sejenak. Di saat senggang, SMS dapat menjadi sarana untuk bercengkerama. Namun apa daya, orang lain tak dapat diukur skala waktunya menurut standar kita. Beberapa hari terakhir, saya mengirimkan SMS ke sejumlah teman, terutama saat senggang di rumah. Tetapi yang itu tadi, skala waktu orang lain tak boleh diukur menuruti kepatutan kita. Jadilah SMS yang menurut laporan sudah terkirim itu mengendap di layar SMS di seberang sana. Sementara saya di seberang sini menunggu balasannya sampai entah kapan. Benar kata orang, menunggu itu pekerjaan paling membosankan. Padahal mungkin SMS yang saya kirimkan hanya sepenggal remeh temeh biasa. Meski demikian, sebagaimana halnya proses komunikasi yang membutuhkan tanggapan atau umpan balik, saya kira berharap sebuah balasan dari SMS yang kita kirimkan itu sah-sah saja.

Lho? Kenapa harus repot-repot, bung Hawe? Bukankah ada teknologi lain bernama telepon?

Memang benar ada telepon. Namun justru saya menghindari telepon dengan banyak alasan. Pertama, hal yang dibicarakan mungkin hal-hal kecil yang kalau dibicarakan di telepon bisa melebar ke mana-mana. Ujung-ujungnya tagihan telepon niscaya membengkak. Lalu, kedua, saya menganggap dengan begitu telpon hanya boleh dipergunakan untuk hal-hal tertentu saja. Antara lain hal-hal yang memang membutuhkan tanggapan langsung yang terlalu panjang kalau dibicarakan via SMS.

Lalu, di sinilah saya. Duduk menganggur sambil menunggu balasan SMS. Siapa tahu akhirnya SMS saya berbalas. Saya toh percaya SMS ini menghasilkan efek yang tertunda. Artinya, sebenarnya pesan kita dibaca dan sang penerima membaca isi pesan kita. Hanya Tuhan (dan si penerima sendiri, tentunya!) yang mengetahui isi hati penerima saat itu, apakah segera dibalas atau menunggu sampai waktu yang tak ditentukan atau tak berminat membalas sama sekali.

Untuk menjadi moral kisah ini adalah sebisa mungkin saya pun dapat membalas setiap SMS yang masuk ke ponsel saya. Kecuali, pulsa sedang sekarat tentunya. Harap maklum sajah!

Filed under: Uncategorized

Senja Pengemis Pincang

Di antara kepungan tubuh mobil yang berebut masuk jalan tol. Pengemis pincang itu berdiri teguh berserah pada penopang yang dikepit di ketiak kiri dan kanannya. Satu persatu mobil yang lewat dihampiri dengan tangan tengadah. Mengais iba dari pengemudi. Barang seribu dua, sudah lumayan untuk mengisi perut. Tidak banyak yang menghiraukan Pengemis. Namun ada yang menggali dompetnya untuk memberi secukupnya bagi Pengemis. Saat sedekah berpindah tangan, Pengemis mengacungkan tangannya persis di depan dahinya. Lantas tangan yang sama mengelus badan mobil pemberi sedekah yang segera berlalu. Sebuah tanda terima kasih.

Senja semakin rapat. Malam sudah dekat. Bila benar-benar langit sudah menelan sang surya, usai pula pertualangan Pengemis Pincang. Susah payah ia menyeberangi badan jalan. Sukses. Sebentar Pengemis Pincang menghitung pendapatan sedekahnya sebelum dari kejauhan perlahan-lahan sebuah mobil pick-up menghampiri. Mobil pick-up itu yang tadi pagi menurunkannya di pintu tol itu datang kembali untuk menjemputnya pulang. Di bak terbuka itu sudah duduk rekan-rekan senasibnya. Ada kakek buta, nenek-nenek, ibu setengah baya yang menggendong bayi kumal, dan bahkan anak-anak. Sekumpulan pengemis yang memenuhi bak terbuka sebuah mobil. Pemandangan yang menakjubkan. Pengemis Pincang menyerahkan hasil pendapatan ke orang yang duduk di sebelah supir. Lalu kembali berpayah-payah memanjat badan mobil untuk sekadar tertampung dan tercampur dalam kumpulannya.

Hari ini usai bagi Pengemis Pincang. Sambil menarik nafas lega dan memejamkan mata, benaknya terbuai lamunan. Besok adalah perjalanan yang baru.

Filed under: Uncategorized

Sepi

Hampa….
Kosong.. Tiada arti lagi diri ini. Di tengah malam larut dengan kesunyian.
Terawang pikiran membuai lagu-lagu sentimentil. Menyedihkan nasib seorang muda seperti diriku harus terseret dengan kesia-siaan masa. Keputusasaan. Tingkat nol ekspektasi.

Lalu debur ombak yang waktu itu membawa lagi aku kepadamu. Pantai tempat kau janjikan untukku, untuk kita. Tapi, tunggu dulu! Di mana dirimu? Masihkah kau ada di kejauhan situ? Menyelam timbul tenggelam di sela-sela ombak. Menyongsong tangan terbuka dari ufuk. Padahal kau tahu senja sudah sebentar lagi. Kau berjanji datang sebelum senja. Kau ingat bukan?

Aku sia-siakan diriku. Kutinggalkan semua kefanaan milikku. Segala kepunyaanku. Waktuku, harta bendaku, pekerjaanku, keluargaku, semua sudah habis lenyap ditelan debu. Hanya demi pantai senja ini. Tempat di mana kita akan bertemu, seperti waktu itu kau janjikan.

Aku yakin kau tidak pernah bohong padaku. Kau pasti datang. Pasti. Aku yakin. Tapi kapan? Pasir sudah sejuk dingin menyelusupi sela-sela jari kakiku. Angin laut sudah menghembuskan aroma malam. Cepatlah kau datang.

Kapan kita terakhir bertemu? Mungkin kau tak ingat lagi. Tapi aku masih ingat satu hal. Waktu itu kusia-siakan waktuku yang berharga. Entah di mana. Entah kenapa. Tak soal. Itulah saat terakhir aku melihatmu. Aku rasa semua akan hanyut seiring masa. Kau tahu aku salah. Aku tahu aku tak mampu menghalau perasaan ini.

Lalu di sini aku duduk. Berteman sepi dengan senja dengan pasir dengan semburat merah muda di pucuk langit. Bintang timur, si planet Venus itu, perlahan-lahan memperlihatkan setitik rupanya di kejauhan. Tidak ada tanda-tanda darimu. Haruskah kutunggu dirimu?

Kau tak datang waktu itu. Aku kembali ke kehidupanku. Memunguti satu persatu sisa-sisa kehidupanku. Kau tak pernah datang menengok lagi barang sekali dua. Kau sudah acuh. Tak kupersalahkan.

Malam masih panjang. Begitupun hidupku. Pula kesunyian dan kesepian. Biarlah aku larut malam ini. Sekali lagi.

Filed under: Uncategorized

Senja di Sudirman Square

Di sudut Sudirman Square
Dua lelaki larut dalam senja
Hanyut oleh irama hati
Padu padan galau dan kacau

Di tepi Sudirman Square
Senja menjadi saksi
Dia menunggu dicari
Dia tak mampu terlupa

Semua berbaur
dalam sepi

Filed under: Uncategorized

almanak

Mei 2005
M S S R K J S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

paling laku

  • Tidak ada

kumpulan

tentang saya…