Dunia Platonis

whatever, wherever, whenever. Free your mind!

Hari Ketika Warga Mencelupkan Kelingkingnya Dengan Tinta Ungu

Tidak harus kelingking, memang. Judul demikian hanya semacam generalisasi. Terkadang butuh generalisasi, dan judul yang panjang-panjang, untuk mencegah kebosanan mampir dalam blog ini.

Apapun, hasil hitungan cepat menunjukkan pilihan capres dan cawapres yang saya contreng tadi siang jauh ditinggali lawan-lawannya. Tak kenapalah, yang penting sudah mengaspirasikan pilihan, toh? Soal menang dan tidak menang, suara terbanyak yang menentukan.

Seperti yang disimpulkan dari bapak Imam Prasodjo pada gelaran hitung cepat di sebuah teve swasta tadi siang, hasil pilihan menunjukkan, warga Indonesia menginginkan ketenangan. Sebuah periode yang aman, nyaman, dan tenteram. Salah satu aspirasi dari keinginan ini adalah pilihan untuk kandidat capres yang masih menjabat saat ini. Wajar saja.

Saya sepakat dengan pendapat pak Imam. Di luar perdebatan tentang rasionalisasi pilihan para pemilih atau tidak, pilihan itu adalah pilihan yang aman. Gambaran kasarnya, sebenernya capres yang bersangkutan tidak perlu lagi susah-susah tarik urat syaraf untuk berdebat, karena pilihan sebagian besar rakyat sudah dipegangnya. Asal, kandidat tidak neko-neko.

Gambarannya lagi, pendekatan konflik untuk menyerang kandidat lain dalam beberapa sesi debat atau kampanye terbukti tidak efektif bagi masyarakat bangsa ini. Pendekatan tersebut malah menjadikan posisi yang diserang kian berada dalam posisi yang dizalimi dan layak dibela.

Ndilalah, pilpres berlangsung satu putaran. Setidaknya itu menurut berbagai hasil hitungan cepat yang ramai diberitakan teve-teve swasta. Di luar itu, masih ada pemberitaan tentang “kecurangan” berupa surat suara yang ternyata sudah dicontreng sebelum pelaksanaan pengambilan suara. Kecil memang jumlahnya, tapi kalau sebarannya ke seluruh TPS repot juga kan…

Setelah meluangkan waktu untuk memberikan suara, warga mencelupkan jarinya dengan tinta berwarna ungu. Sengaja saya pilihkan kelingking untuk judul ini karena saya memilih kelingking saya untuk ditintai. Berbeda dengan pemilihan legislatif, pilpres berlangsung ekspres dan tak banyak keramaian di sekeliling TPS seperti tiga bulan lalu.

Biarlah yang menang benar-benar mampu meneruskan tugasnya untuk memajukan bangsa ini, seperti yang dipercayakan para pemilih.

Ketika lima tahun lalu digelar, pilpres dibarengi dengan final Piala Eropa yang dimenangi Yunani atas tuan rumah Portugal. Meski dicela karena mengandalkan sepakbola defensif, Yunani sukses menuai kejutan demi kejutan hingga memenangi gelar internasional pertamanya. Kini, pilpres dibarengi dengan pemakaman superstar Michael Jackson. Setidaknya ada empat stasiun teve nasional yang menayangkan langsung prosesi penghormatan terakhir kepada sang Raja Pop. Saya baca dari berita suratkabar, dan ada yang saya saksikan sendiri, simpati masyarakat Indonesia mengalir begitu derasnya kepada MJ, terutama di tengah selentingan agama Islam yang dianutnya beberapa tahun belakangan.

Mungkin sudah takdir pemilihan di Indonesia selalu menjadi sorotan utama di tengah-tengah kejadian lain yang tak kalah heboh…

Filed under: mengalami, opini , , , , , , ,

Antri Dulu Sebelum Terhibur Nonton Transformers

Megan Fox, 60 persen alasan menonton Transformers 2?
Megan Fox, 60 persen alasan?

Butuh perjuangan ekstra untuk menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari pemutaran perdananya di Jakarta. Ini musim liburan, bung! Libur anak sekolah, libur anak kuliah, libur para orangtua dari kantornya untuk menemani anak-anaknya, libur mereka yang bolos atau cuti dari kantor untuk nonton perdana Transformers 2…

Seorang teman, bapak beranak satu, mengungkapkan ambisinya menonton Transformers 2. Sisanya untuk para robot dan karakter utamanya, 60 persen hanya untuk Megan Fox seorang! Jadi, penonton boleh memilih, mau terhibur atas aksi para robot sepanjang film atau protes screentime Nona Fox seharusnya lebih banyak dan sering lagi.

Apapun, Transformers 2 menjadi puncak eksplorasi Michael Bay. Sukses menjadikan logi pertamanya laris manis di pasaran, Bay seperti punya keleluasaan dalam mengerahkan (hampir) seluruh gagasannya dalam film. Tidak ketinggalan tentu sedikit chauvinisme yang disisipkannya dalam banyak adegan.

Saat menonton, satu studio penuh tanpa menyisakan bangku kosong. Saya terpaksa berganti bioskop untuk menuntaskan niat menyaksikan Transformers 2 tepat pada hari perdana pemutarannya. Sudah bisa diduga, banyak anak-anak berusia sekolahan di dalam studio. Banyak pula para orangtua yang menemani. Ada juga yang dititipi mengantri depan loket untuk membeli tiket pertunjukan usai jam kerja untuk nonton bareng rekan-rekan sekantornya. Memang musim liburan.

Tidak perlu meminta kedalaman cerita dalam Transformers 2. Kamu tinggal mengantri, masuk studio, makan-minum cemilan, sambil menikmati filmnya hingga tuntas. Benar-benar menghibur. Itu takkan terelakkan.

Ledakan. Slow motion. Medium shot yang berputar mengelilingi tokoh utama. Para karakter berbaris horizontal dengan gagah berani. Semua Bay-isme tersaji di depanmu. Jangan protes kalau Amerika Serikat tampak jumawa dalam film.

Tidak semuanya seserius dan memicu adrenalinmu. Syaraf-syaraf sedikit dibikin rileks setiap karakter ibu Shia LeBoeuf, roomie-nya, dan mantan agen rahasia yang diperankan John Turturro muncul. Mereka kerap mengundang ledakan tawa para penonton studio.

Saya bukan maniak sejati Transformers 2. Saya tidak hapal nama-nama Autobots dan Decepticon yang muncul dalam film, dan yang mana yang belum muncul. Saya masih kesulitan mengikuti secara detail ketika para robot itu bertarung. Tapi saya akui, masih lebih mulus ketimbang logi yang pertama.

Saya tidak beralasan pergi ke bioskop demi Nona Fox. Bagi saya, bukan dia yang menjadi alasan utama untuk menonton film ini. Mungkin ini alasan rutin saja, saya tidak ingin tertinggal perbincangan film terbaru yang muncul di layar bioskop, apalagi untuk mendengar cengegesan spoiler dari teman-teman yang sudah lebih dulu menyaksikan film.

Bagi beberapa orang, terutama saat peluncuran logi pertama dua tahun lalu, Transformers adalah mimpi masa kecil yang jadi nyata. Saya tidak terlalu larut dalam hype itu. Ini lagi-lagi “cuma” Bay-isme yang mencapai titik ekstrimnya. Sudah sampai situ saja.

*image courtesy of www.filmofilia.com

Filed under: mengalami, resensi , , , , , , , , ,

Afrika Siap Berpesta

Fans Afrika Selatan

Selama dua minggu ini, dunia sepakbola menatap baik-baik Afrika. Mungkin ini kejadian sekali seumur hidup. Belum pernah perhatian sepakbola lekat-lekat dipusatkan pada Afrika. Alasannya bukan lain daripada Piala Konfederasi 2009.

Sebenarnya, ajang itu baru pemanasan saja dari yang sebenarnya setahun ke depan. Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Negara yang pernah berantakan karena politik apartheid itu mendapat kehormatan menjadi negara Afrika pertama yang menggelar turnamen sepakbola terbesar di dunia.

Nelson Mandela tahu makna sepakbola bagi bangsanya. Pejuang kebebasan Afrika Selatan ini menghabiskan 27 tahun usianya dalam penjara. Selama 18 tahun berada di “pengasingan” Robben Island, Mandela menyaksikan banyak tahanan yang menghabiskan waktu luang dengan bermain sepakbola.

Pada periode yang hampir bersamaan, sepakbola menjadi salah satu olahraga populer di Afrika Selatan. Berkat politik pemisahan kelas sosial [ras, suku, agama, etnis] yang terkutuk itu, pemerintahan juga memisahkan olahraga berdasarkan warna kulit warganya. Di sekolah-sekolah, kulit putih belajar rugby, sedangkan sepakbola untuk yang berkulit hitam. Kriket dimainkan warga kulit putih, sedangkan tinju untuk mereka yang berkulit hitam.

Sepakbola berkembang sejak diperkenalkan awal abad 20 oleh pemerintah kolonial Inggris. Orlando Pirates didirikan pada 1937 dan Moroka Swallows pada 1947. Pertandingan-pertandingan sepakbola di Johannesburg, Durban, dan Cape Town disesaki masyarakat berkulit hitam yang antusias. Sepakbola dipandang olahraga murah meriah yang dapat mempersatukan mereka dalam satu rasa. Sepakbola adalah alat persatuan bagi mereka yang tertindas.

Akibat politik apartheid, FIFA mengasingkan Afrika Selatan dari pentas sepakbola internasional. Sejak 1961, FIFA melarang tim nasional manapun memainkan pertandingan di Afrika Selatan. Di dalam negeri, pengucilan tersebut tidak menghalangi kesemarakan sepakbola.
Apalagi setelah rezim otoritarian Portugal tumbang pada 1974. Pengaruhnya berdampak pada gerakan pembebasan wilayah koloni Portugal, seperti Mozambik dan Angola. Rhodesia dan Zimbabwe ikut bergolak. Di Afrika Selatan, serikat buruh melancarkan aksi mogok besasr-besaran. Pemerintah mulai melunak dan membiarkan sepakbola menjadi ajang yang mempersilakan pembauran dua kelas warganya.

Sebelum menggelar Piala Dunia 1978, timnas Argentina sempat berkunjung ke Afrika Selatan. Tim Tango mengusung bendera “Invitation XI” untuk menyiasati larangan FIFA. Peraturan memang melarang timnas berlaga, tapi tidak untuk pemain secara individual. Tim multiras Afrika Selatan meladeni Argentina dan menang telak 5-1. Empat gol tuan rumah disumbangkan pemain terkenal Afrika Selatan kala itu, Pule “Ace” Ntsoelengoe.

Menurut penulis Tony Karon, Ace menjadi korban ganda politik apartheid. Selain dihilangkan hak-hak sosial sebagai warga negara, Ace tak pernah dapat kesempatan bersinar di pentas internasional sejajar dengan nama-nama besar pemain dunia. Ace memang sukses merintis karir di luar Afrika Selatan, dengan membela Minnesota Kicks di liga Amerika Serikat, yang kemudian dikenal dengan North American Soccer League. Tak banyak pemain Afrika Selatan yang bermain di luar negeri saat itu, apalagi di Eropa. Tapi, nama Ace tak pernah benar-benar dikenal luas di kalangan pecinta sepakbola dunia.

Pada 1978, Mick Channon dan Kevin Keegan unjuk kebolehan di Cape Town. Sponsor pun mulai tertarik menumpang pertandingan si kulit bundar. Puncaknya, medio 1980-an, National Soccer League dimulai.

Mandela bebas dari penjara pada 11 Februari 1990, dan pembahasan tentang mengakhiri kebijakan apartheid mulai marak. Di pentas sepakbola, pembauran ditunjukkan dengan dibentuknya South African Football Association (SAFA), Desember 1991. Pada 3 Juli 1992, FIFA mencabut sanksi pengucilan terhadap Afrika Selatan yang sudah berlangsung selama 31 tahun.

Pada pertandingan internasional pertama mereka, Doctor Khumalo menjadi pengentas puasa sepakbola Afrika Selatan setelah menceploskan bola dari titik putih ke gawang Kamerun.

Setelah Mandela diangkat sebagai presiden, 10 Mei 1994, beliau menghadiri pertandingan antara Afrika Selatan melawan Zambia di stadion Ellis Park, Johannesburg.

Dua tahun kemudian, Afrika Selatan menggelar Piala Afrika dan sukses menjuarainya dengan mengalahkan Tunisia, 2-0, pada 3 Februari 1996. Partai bersejarah itu dipenuhi 90 ribu penonton di stadion FNB, Soccer City, yang menyaksikan trofi diangkat kapten Bafana Bafana berkulit putih, Neil Tovey.

Sepakbola Afrika Selatan terus berkembang. Bafana tampil untuk kali pertama di Piala Dunia pada Prancis’98, meski langsung tersisih pada penyisihan grup. Bafana kembali tampil empat tahun kemudian di Jepang-Korea Selatan dan mengulangi prestasi yang sama.

Pada 2004, Afrika Selatan mencatat sejarah dengan dipercaya menjadi negara Afrika pertama untuk menggelar Piala Dunia. Sejarah itu bisa saja dibuat lebih cepat, tapi pencalonan Afrika Selatan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 digugurkan Jerman dan Inggris.

Tidak hanya Mandela dan seisi Afrika Selatan yang berbahagia. Seluruh Afrika layak berpesta. Di tengah-tengah kerisauan masyarakat sepakbola internasional atas kesiapan infrastruktur, khususnya stadion dan transportasi [plus keamanan], Afrika Selatan jalan terus.

Pada Piala Konfederasi selama dua pekan ini, kesemarakan Piala Dunia mulai terasa. Penonton datang ke stadion dengan kacamata besar. Terompet berbunyi sengau dan topi-topi lucu — vuvuzela dan makarapa. Selama pertandingan, mereka terus bergerak, bernyanyi, dan melakukan tarian massal. Inilah sepakbola Afrika. Sepakbola ritmik. Sepakbola yang terus bergerak. Sepakbola eksotis yang dinamis.

Dunia akan menyaksikan sajian sepakbola yang sama sekali baru di Afrika Selatan 2010. Apartheid sudah menjadi masa lalu yang ditinggalkan jauh-jauh. Di lapangan sepakbola, semua orang, tanpa peduli asal usulnya. Tahun depan, dunia akan berbaur dalam pesta sepakbola. Tanpa pembedaan dan perbedaan.

Di atas semuanya, seisi Afrika memang pantas berpesta!

*Image courtesy of www.vuvuzelas.com

Filed under: opini , , , , , , ,

Teruslah Bermimpi, Garuda

Sepakbola Indonesia terus bermimpi. Dalam film keluarga bernuansa sepakbola, Garuda Di Dadaku, mimpi tersebut makin disakralkan.

Dari berbagai hal, menurut saya, film ini jauh lebih berbobot dan menarik ketimbang sebuah film sepakbola lain yang dirilis sekira bulan lalu.

Bayu, seorang siswa kelas 6 SD, bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Profesi yang ditekuni ayahnya dan ditentang kakeknya. “Buat apa jadi pemain sepakbola. Memang digaji tinggi, tapi kalau cedera, selesai!” tegur kakeknya.

Setelah memerankan tokoh kepala sekolah yang bijak dalam Laskar Pelangi, Ikranegara mampu menampilkan figur kakek yang berkesan. Pilihan kosa kata dan intonasi Ikranegara barangkali terasa kuno bagi penonton, tapi malah menguatkan kesan seorang kakek yang mencoba menjadi teladan bagi cucu kesayangannya.

Bayu tak habis akal. Si bocah mencari-cari waktu bermain sepakbola dan menghabiskan banyak waktu berdiskusi soal si kulit bundar bersama Heri. Padahal, sang kakek lebih mengarahkannya ke bidang ekstrakurikuler lain yang lebih “serius”, seperti melukis dan musik.

Dasar memang berbakat, kemampuan Bayu diendus Johan, diperankan Ari Sihasale, pelatih sebuah sekolah sepakbola ternama Jakarta, yang menawarinya masuk sekolah itu melalui program beasiswa. Mimpi belum berhenti hingga di sana, karena Bayu bercita-cita menembus seleksi timnas Indonesia U-13.

Seperti banyak kisah lain, mimpi kerap menemui kesulitan.

Kakek Usman mewakili sinisme masyarakat terhadap perkembangan sepakbola Indonesia. Banyak kritik yang sudah teramat sering disampaikan untuk sepakbola nasional. Saking seringnya, pendapat Usman malahan sudah jadi omongan klise.

Skenario Garuda Di Dadaku, yang ditulis Salman Aristo, lugas dan sederhana. Cocok bagi tontonan keluarga untuk mengisi masa liburan sekarang ini. Menariknya, skenario sederhana itu ditutupi penyutradaraan yang apik oleh debutan Ifa Ifansyah. Begitu juga dengan akting Ikranegara dan Ramzi, yang tampil lepas dan berwarna.

Bagi mereka yang lebih serius dan ingin mencari solusi atas situasi sepakbola Indonesia, Garuda Di Dadaku memang tidak bisa memberikan jawaban.

Jadi, lupakan dulu pertanyaan, “Kapan anak Indonesia bermain di liga Inggris?” Nikmati saja filmnya. Sepakbola Indonesia memang belum mampu berprestasi, tapi bermimpi tidak dilarang bukan?

Rating: 4/5

Filed under: resensi , , , , , , , , , ,

Ajax Amsterdam 1972: Revolusi Sepakbola Menyerang

Johan Cruyff“Sepakbola itu sederhana, tapi paling sulit memainkan sepakbola sederhana.” — Johan Cruyff

Setengah abad silam, sepakbola Belanda hanyalah kurcaci di percaturan sepakbola Eropa. Ajax Amsterdam hanyalah sebuah klub semi-profesional yang tangguh di kompetisi lokal, tapi kerap kalah pada babak-babak awal kompetisi antarklub Eropa.

Musim 1964/65, Ajax nyaris terdegradasi. Seperti yang selalu terjadi dalam kehidupan, berkah selalu bersembunyi di balik kesulitan. Awal 1965, eks striker Ajax, Rinus Michels, yang menekuni karir sebagai guru senam, mengambil alih tongkat kepelatihan dari Vic Buckingham.

Mungkin memang sudah digariskan Michels menangani Ajax, karena pada saat bersamaan seorang bintang muda bernama Johan Cruyff, 18 tahun saat itu, mulai naik daun.

Gaya militer Michels dipadu dengan revolusi strategi tim yang menekankan umpan pendek satu-dua dan pergerakan antarpemain yang luwes mulai berbuah sukses.

Tim kurcaci dari Belanda itu secara mengejutkan menembus babak final Piala Champions 1969. Di final, Ajax berhadapan dengan tim terkenal Italia, AC Milan, yang lebih berpengalaman tampil di Eropa. Tim-tim Italia pada era itu dikenal sebagai tim yang mengandalkan kekuatan lini pertahanan dan serangan balik. Strategi ofensif Michels menjadi senjata makan tuan.

Pierino Prati mencetak hattrick dan ditambah gol dari kapten Angelo Sormani. Ajax hanya mampu membalas lewat satu gol melalui eksekusi penalti Velibor Vasovic. Panggung Eropa rupanya masih terlalu dini bagi tim sehijau Ajax.

Tahun berikutnya, Ajax tersentak karena rival senegara, Feyenoord Rotterdam, mampu merajai Eropa dengan menaklukkan juara 1967, Glasgow Celtic, di partai puncak.

Ajax melakukan pembenahan. Gelandang Gerrie Muhren diboyong dari FC Volendam dan bek Ruud Krol dipromosikan dari tim cadangan. Lengkap sudah skuad impian Michels untuk menjalankan strategi ofensifnya. Piala Champions musim 1970/71, permainan Ajax mulai matang dan memikat Eropa.

Filosofi Michels sederhana, siapa yang menguasai bola lebih banyak akan memenangkan pertandingan. Lini tengah Ajax menjadi tulang punggung kekuatan tim. Para pemain dengan luwes berganti posisi, saling mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan rekannya.

Penjaga gawang dianggap sebagai pemain lapangan yang kebetulan mengenakan sarung tangan, sehingga serangan tak jarang dimulai dari dirinya. Ketika lawan melakukan serangan balik, penjaga gawang menjadi pemain belakang yang bertugas menyapunya.

Strategi ini takkan berjalan tanpa seorang Cruyff. Jika Michels, Sang Jenderal, adalah otak di luar lapangan, Cruyff adalah penerjemahnya di atas lapangan.

Cruyff adalah seorang pembaharu. Berbeda dari Pele dan Diego Maradona, Cruyff melengkapi kecermelangan penampilannya di atas lapangan dengan kemampuan mengubah strategi tim langsung saat bermain. Cruyff tak pernah berhenti memberikan instruksi kepada para rekannya saat bermain. Ke mana seorang pemain harus berlari, di mana mereka harus berdiri, dan kapan mereka harus berdiam.

Ketika Panathinaikos menembus final Piala Champions 1970/71, publik Eropa lebih ramai membicarakan penampilan mencengangkan Ajax. Padahal, Panathinaikos menjadi klub Yunani pertama yang mencapai partai puncak kejuaraan antarklub Eropa. Prestasi pasukan yang dilatih Ferenc Puskas itu merupakan pencapaian besar sepakbola Yunani sebelum Euro 2004.

Ajax sukses mengalahkan Panathinaikos 2-0 melalui gol-gol Dick van Dijk dan Arie Haan. Michels pindah melatih ke Barcelona musim berikutnya. Kursi kepelatihan diteruskan pelatih asal Rumania, Stefan Kovacs, yang sama disiplinnya.

Praktis, Kovacs mewarisi skuad Michels. Beberapa perubahan skuad dan manajemen terjadi. Kapten Vasovic mundur dan Kovacs mempercayakan bek asal Jerman, Horst Blankenburg, untuk menjalankan fungsi sebagai libero tim.

Piala Champions 1971/72, Ajax kembali tampil di partai final untuk mempertahankan gelarnya. Ajax sukses melalui Dynamo Dresden, Olympique Marseille, Arsenal, dan Benfica sebelum memastikan tiket laga puncak yang secara kebetulan digelar di stadion De Kuip, Rotterdam.

Lawan Ajax di final adalah Inter Milan. Ajax kembali menghadapi tim Italia, seperti tiga tahun sebelumnya. Seperti Kovacs, pelatih Inter saat itu, Giovanni Invernizzi, mewarisi skuad Il Grande Inter asuhan pelatih legendaris, Helenio Herrera.

Meski tak pernah mengakui kunci strategi pada pertahanan timnya, Il Mago membawa Inter menjuarai Piala Champions dua kali berturut-turut, 1964 dan 1965. Satu-satunya kejayaan Nerazzurri di Piala atau Liga Champions hingga saat ini. Pada 1967, Inter kembali menembus babak final Piala Champions, namun dikalahkan Celtic, yang tampil lebih agresif.

Taktik Herrera, dikenal sebagai “verrou”, atau “pintu petir”, memungkinkan serangan balik yang dilakukan melalui dua bek sayap. Salah satu pemain andalan Herrera adalah bek sayap legendaris Inter, Giacinto Facchetti, yang juga tampil di final 1972. Pada perkembangannya, verrou melahirkan “catenaccio”.

Pertemuan Ajax dan Inter pada final 1972 merupakan pertandingan klasik dalam sejarah sepakbola yang selalu mempertemukan dua permainan dengan kutub berbeda. Sepakbola menyerang lawan bertahan. Salah satu final Piala/Liga Champions terbaik sepanjang masa.

Permainan defensif Inter berhasil memaksa babak pertama berakhir tanpa gol. Ajax mulai khawatir karena pertandingan berjalan sesuai dengan rencana Inter. Berkat semangat yang pantang menyerah, dua menit setelah jeda, Cruyff sukses memanfaatkan kesalahan antisipasi kiper Ivano Bordon saat menghalau umpan silang dan menceploskan bola ke gawang kosong.

Aliran serangan Ajax terus bergelora. Cruyff membuat pengawalnya, Gabriele Oriali, tak berkutik. Menit ke-78, Cruyff kembali menciptakan gol yang melengkapi keunggulan Ajax atas Inter melalui sundulan kepala. Keunggulan sepakbola menyerang atas bertahan.

Kedudukan 2-0 tak berubah dan Ajax sukses mempertahankan gelarnya. Permainan menyerang Ajax dikagumi pecinta sepakbola Eropa. Pers menyebut gaya permainan Ajax, “Total Football”. Istilah yang dirasa tidak terlalu tepat oleh Michels.

Dan, lahirlah filosofi baru yang mengubah wajah sepakbola dunia…

*sumber gambar: Wikimedia

Filed under: opini , , , , , , ,

almanak

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

kumpulan

tentang saya…